Merawat cinta..

15.09.00

Ini bulan ke sembilan pernikahan kami, Perjalanan sembilan bulan mempertemukan saya pada banyak cerita, pada mereka yang terus saja merawat cinta dengan segala peluhnya, pada mereka yang saya jumpai ada pelajaran bahwa begitulah memang cinta membawa pemiliknya, yang awalnya hanya berharap untuk menerima namun nyatanya waktu menggerakan ia untuk memberi dan memberi tanpa henti, bahwa pada setiap jejak cinta harus ada pembuktian, dan kelak pembuktian ini akan menjadi obat yang dapat mengobati lara hati saat perpisahan itu datang, kematian.

Tetangga saya menasehatkan perihal obat lara hati ini. Istri beliau meninggal dua bulanan yang lalu, saat menceritakan kebaikan-kebaikan istri beliau kepada kami -saya dan suami- air mata beliau sempat meniti, cerita beliau berlanjut pada kebaikan-kebaikan istri beliau semasa hidup, kata-kata perpisahan yang beliau ucapkan sungguh membuat saya meleleh, saya terharu..

 “Aku ridho kepadamu” ucap beliau kepada istrinya. Kata-kata ini tidak pernah beliau rencanakan sebelumnya, kebaikan-kebaikan istri beliaulah yang menggerakan beliau untuk mengucapkan kata-kata mulia itu. Mulia sebab syurga seorang istri ada pada ridho suaminya.

Beliau menasehatkan kepada saya dan suami untuk senantiasa memberikan yang terbaik kepada pasangan, yang terbaik dari apa yang kami bisa dan kami miliki, ini adalah sebaik-baik pembuktian cinta.


Sembilan bulan ini, saya melihat suami saya berusaha begitu keras menjadi lebih baik setiap harinya. Saya kadang merasa kasihan padanya harus beristri seperti saya ini. Saya sering terharu pada upaya-upaya baiknya untuk membahagiakan saya dengan caranya yang sederhana. Sekali waktu ia bertanya, kalau cinta di kasih nilai satu sampai sepuluh, kira-kira cinta saya ke dia dapat point berapa. 

Saya pilih ‘dua’.. 

Haaa dua?

Iya duaa...

Dualam bangeeeet... Hahaha

Malam tadi kami ngobrol panjang lewat telpon, obrolran kami ada di seputaran sirah shahabat dan keseluruhannya mengarah kepada pembuktian cinta. Kali ini suami saya yang bercerita banyak, ia menceritakan kisah yang ia dengar dari ceramah ustadz syafiiq basalamah yang berjudul “hanyut bersama ibnu mas’ud”.

Mulailah suami saya bercerita, kisah dibuka dari cerita ibnu mas’ud sepeninggal Rasulullah, Para shahabat seperti melihat Rasulullah pada gerak-gerik ibnu mas’ud, dari sisi akhlak dan laku ibnu mas’ud memiliki perangai yang hampir seluruhnya menyerupai Rasululullah, hal ini membuat air mata para shahabat tak terbendung, ada rindu yang menggetarkan hati dan inilah pembuktin cinta para shahabat kepada Rasulullah, mereka radhiyallahu anhuma senantiasa berusaha sekuat hati dan tenaga untuk meneladani yang mereka cintai. Bahkan pada hal sepele, ketika Rasulullah dalam sholat dan tetiba melemparkan sendal, para shahabat tanpa kepo-kepo juga ikutan, padahal mereka tidak mengetahui apa alasan Rasulullah saat itu.

Dan juga saat Rasulullah bertanya tentang infak-infak yang bisa diberikan para shahabat untuk Allah dan RasulNya, apa yang datang? ada yang membawa seluruh hartanya, setengah, sebagian, yang tidak memiliki harta bersimbah air mata, lalu hadirlah seorang shahabat yang menginfakkan kehormataannya, ia mengikhlaskan semua perlakuan tidak baik yang pernah ia dapatkan dari sesama muslim, semoga dengan itu urusan kaum muslimin dimudahhkan... Cintaaa..

Suami saya sempat diam.. Sebelum kembali pada cerita ibnu mas’ud..

Ibnu mas’ud adalah shahabat yang miskin sampai-sampai biaya hidup sehari-harinya sebagian ditanggung oleh istrinya.

Suami saya diam lagi..
 

Ia mengucapkan terima kasih atas apa yang sudah saya berikan.

Saya terharu karena jauh sebelum suami saya bercerita, saya sudah pernah mendengar kisah istri ibnu mas’ud yang sempat mengeluh kepada suaminya yang miskin bahwa ia ingin bersedekan dari hasil keringatnya, tapi selama ini yang sudah ia upayakan selalu habis untuk membiyayai kehidupan rumah tangga mereka. Saya tidak bisa membayangkan bagaimana perasaan ibnu mas'ud mendengar keluhan istrinya, mengingat posisi beliau adalah shahabat Rasulullah, tahu dengan pasti bahwa tanggung jawab mencari nafkah itu ada dipundak suami. Ibnu ma'ud bukannya tak bergerak untuk mencari nafkah, hanya saja rezki yang ia dapatkan tak mencukupi kebutuhan rumah tangga mereka. Ibnu mas’ud kemudian menyuruh istrinya untuk bertanya kepada Rasulullah.

Apa kata Rasulullah... “Sungguh apa yang kami berikan kepada suamimu adalah sedekah”
 
Saya diam lama sekali menungggu suami saya melanjutkan cerita.

 "sayang, saat mendengar kisah istri ibnu mas'ud ingatan saya langsung menuju kamu... terima kasih atas bantuannmu selama ini" 

Air mata saya meniti.

Saya mengingat pernah mengeluh saat memakai sebagian gaji saya untuk kebutuhan kami, sedang seluruh penghasilan suami saya, kami pakai bersama. Saya mengingat seluruh pemberian dan juga kebaikan suami saya selama ini. Pemberian itu memang tidak datang melulu dalam wujud materi, tapi nasehat yang ia sisipkan ditiap obrolan kami, sirah-sirah yang ia ceritakan dipenghujung malam, bakti yang ia tunjukan pada orang tua kami, dan juga bisikin untuk bersabar.. bukankah itu juga nikmat? nikmat yang tidak bisa dibeli...

Saya mengingat-ngingat lagi nikmat-nikmat selama sembilan bulan pernikahan kami dan segala apa yang kami temui, Hati saya tertunduk. Air mata saya meniti.

*********

Semoga selamanya akan begini terus, kita saling mengingatkan dalam kebaikan, saling mengingatkan bahwa terus memberi adalah carai kita merawat cinta..

Sembilan bulan bersamamu.. Maafkan karena saya tidak membersamai setiap harimu..

January 2015

You Might Also Like

2 comments

  1. Terharuuu..dengan kisah bapak tadi, semoga husnul khatimah...

    ehm, masih dalam suasana pengantin baru... Semoga mawaddah wa rahmah.:)

    BalasHapus
  2. kapan-kapan berkunjunglah ke blog septri mbak ( episoderihaf.blogpsot.com dan celotehseptri.blogspot.com)

    BalasHapus

I'm Proud Member Of