Ruwaifi' dan Pertemuan Kembali

15.59.00


Setiap kali mendatangi makam Ruwaifi' selalu saja ada perasaan baru, hal ini menjadi semacam pertemuan yang syahdu antara anak dan orang tua, hanya saja bagian akhirnya kami harus meninggalkan si anak, bertambah syahdulah, terlebih jika kepulangan kami diiringi gerimis. Sampai hari ini, suami saya masih menjadi yang paling tabah diantara kami berdua. Setahun ini sangat terasa jatuh bangunnya perasaan kami. Namun, bagaimana pun, kami harus berhenti mengandaikan ini dan itu tentang Ruwaifi.

Lebaran kemarin, kami berlebaran berdua saja disini, di kossan, hehe. Salah satu alasan tidak mudik tahun ini, lagi-lagi karena Ruwaifi, nyata-nyatanya saya ini belum move on, karena berlebaran tanpa melihat makam Ruwaifi' rasanya tidak bisa saya hadapi. Jadilah setelah sholat id, saya dan suami segera bergegas mendatangi Ruwaifi. Di antara sekian banyak peziarah hari itu, kami menjadi dua orang yang saling menguatkan, hanya kami saja yang berduaa, rombongan peziarah bahkan ada yang naik truck beramai-ramai, suasana area pemakaman hari itu sangat ramai, duh rindu macam apa ini.

Setelah memarkir kendaraan, kami bergegas melewati keramaian peziarah, saya sempat berpikir bahwa keramaian pagi itu semacam miniatur kecil rupa-rupa perasaan rindu, seorang anak pada orang tuanya, orang tua pada anaknya, suami pada istrinya, istri pada suaminya. Rindu seolah bisa terobati dengan menatap nama yang sudah tak terhitung didokan kebaikan, lalu bagaimana bergemuruhnya hati jika ternyata Allah berkenan mempertemukan kembali di Syurga-Nya?

Ada banyak cara untuk menyampaikan Rindu, dan mendoakan adalah cara terbaik yang kami pilih, sebelum meninggalkan makam Ruwaifi' hari itu, saya berbisik pelan, "Ruwaifi sayang, tunggu kami ya nak dipintu Syurga :')"

Syawal 1437 H









You Might Also Like

0 comments

I'm Proud Member Of