Menjadi ia yang pandai bersyukur

09.39.00

Saya sering memperhatikan obrolan ibu-ibu di media sosial tentang pekerjaan rumah yang tak habis-habis, entah sedahsyat apa urusan rumah tangga itu sampai-sampai mengancam kewarasan. Saya memikirkan ini dalam-dalam, apakah mungkin bocah-bocah mungil yang dinantikan siang malam itu bisa mengancam kewarasan, kemana cinta jika mengurus keperluan suami sedikit-sedikit bisa bikin emosi, ataukah begitu menjenuhkannya kah rumah hingga sampai-sampai mengancam kewarasan.

Sebagian lagi merasa kekurangan me time, pekerjaan rumah seakan memenjarakan, tidak ada waktu lagi untuk dirinya, padahal masih sempat facebukan, instragraman, nge path dan lainnya, haha. Dari sini saya mengambil kesimpulan bahwa salah satu keajaibab seorang perempuan (baca: istri) dalam keadaan tidak waras pun urusan rumah tangga tetap saja berjalan, dapur tetap mengepul, rumah dengan tertatih bolak-balik dirapikan, baju-baju tidak mengabadi dalam baskom.

Sebagai Istri yang jauh dari suaminya dan tidak mengurus anak alias hanya mengurus diri sendiri saja, hal ini membawa saya keperenungan yang jauh untuk mempersiapkan diri, jangan sampai jika saya harus di 'rumah' kewarasan saya akan terganggu atau minimal terancam. Hehe.

Hasil perenungan saya, pertama kali mendapati bahwa tabiat ibadah memang menguji. Iya, mengunji. Maka jadilah urusan rumah tangga itu tidak sedikit yang menguji, ujian tahap awal adalah emosi yang kadang tidak terencanakan, niatnya mau jadi istri sholeha yang sabar tapi kenyataannya tetap saja uring-uringan, tahap selanjutnya adalah merasa terbebani, bagian fatalnya adalah membandingkan diri dengan orang lain.

Bagian membandingkan diri dengan orang lain menjadi catatan tersendiri untuk saya, parahnya pembanding itu selalu mengarah ke yang hidupnya kelihatan enak-enak saja, hal ini menjadi nama lain dari tidak pandai bersyukur.

Maka belajar mensyukuri hal-hal kecil yang saya dapatkan saat ini menjadi salah satu persiapan menyambut peran itu, jika Allah kelak menakdirkan saya di rumah saja, mengurus anak dan suami.

Pertanyaan terakhir, Sepenting apakah persiapan diri? sama pentingnya dengan menjalani peran itu sendiri. 

45 Hari lagi insyaallah :)

You Might Also Like

0 comments

I'm Proud Member Of