Kenangan

13.27.00


"Jari-jarinya panjang, kulitnya putih, wajahnya mirip denganmu..” jelasnya setelah saya menanyakan bagaimana rupa anak kami.

“Harusnya tadi menunggu saya bangun dulu baru di makamkan...Saya ingin memegang tangan Ruwaifi...” ucapku lirih.

Ia hanya menatap saya dengan mata berkaca tanpa berkata-kata. Malam semakin larut. Ruangan rumah sakit yang kami tempati tidak dapat lagi menampung perasaan kami, kami sama-sama menangis, tanpa isak.

21 November 2015

Hampir dua bulan dari hari itu, saya kembali mendatangi rumah sakit yang andai boleh memilih, saya ingin melupakannya saja. Namun, ingatan saya seperti melawan, semakin kuat usaha saya untuk melupakan tiap jengkal kejadian di rumah sakit ini, maka ingatan saya akan bekerja lebih kuat lagi untuk memanggil semua kenang-kenangan itu, iya, kenangan tentang anak kami. Rasa-rasanya separuh hati saya tertinggal di rumah sakit ini.


Saya memasuki rumah sakit dengan hati yang saya kuat-kuatkan, namun baru berapa langkah, kekuatan itu seperti luruh saat saya melewati kerumunan ibu-ibu muda yang menggendong bayi. Saya berhenti sebentar memandangi wajah-wajah imut itu, mungkin bayi-bayi itu seumuran Ruwaifi, anak kami. Ah sedang apa dia saat ini? bagaimana kabarnya? dengan siapa ia berteman? adalah pertanyaan yang saya ulang-ulang tiap kali mengingatnya.

Saya kembali melanjutkan langkah menyurusi lorong-lorong rumah sakit, sesekali saya tersenyum kecil mengingat apa yang saya lewati selama hamil. Kenang-kenangan di rumah sakit ini seperti berebutan mendatangi. Manusia memang hanya bisa berencana, sesuatu yang kita perjuangkan dengan berdarah-darah dapat hilang dalam sekejap jika Allah tidak berkenan. Mengembalikan setiap urusan kepada Allah adalah pelipur lara yang paling sakti.

-------

Sepeninggal anak kami, setiap kali mengikuti pengajian saya akan menuliskan pertanyaan diselembar kertas yang berisi permohonan nasehat...”ustadz mohon nasehatnya, anak kami meninggal beberapa pekan yang lalu..”

Untaian-untaian nasehat itulah yang kemudian menguatkan kami. Bahkan seorang ustadz mengatakan bahwa ketetapan Allah atas meninggalnya seorang anak mengandung banyak kebaikan, sisi buruknya hanya satu saja yakni kesedihan yang menyelimuti hati, selebihnya ada banyak kebaikan yang Allah janjikan.

Di antaranya, pertama, Akan di gugurkan dosa-dosa orang tua yang kehilangan anaknya, bukankah setiap musibah yang menimpa seorang muslim akan menggunggurkan dosa-dosanya. Kedua, ada janji pahala yang besar atas kesabaran. Ketiga, Akan dibangunkan rumah di syurga, rumah itu di namakan rumah pujian. Keempat, Si anak akan menanti orang tuanya dipintu syurga dengan penuh kerinduan.

Selain nasehat-nasehat dari pengajian, kami juga mendatangi toko buku. Buku yang berjudul “Ya Allah, aku mah apa atuh” seperti diterbitkan untuk kami. Nasehatnya pas.

Dan nasehat dari saudara-saudara seiman yang mendapatkan ujian serupa. Salah satu nasehat yang begitu berkesan di hati datang dari salah seorang pimpinan di tempat saya bekerja. Beliau menuturkan bahwa salah seorang kerabatnya mengatakan bahwa di arab sana jika seorang muslim kehilangan anak yang belum mencapai usia baligh maka orang-orang akan mengatakan barakallah karena keutamaan yang Allah janjikan begitu banyak untuk mereka yang di uji dengan kehilangan anak.  


Semoga kami termaksud orang-orang yang sabar..

-------
Kemarin sore saya kembali mendatangi makam anak kami sepulang dari tempat kerja. Kangen rasanya :’)

Teruntuk Ruwaifi sayang, qadarullah, Allah menetapkan bahwa kamu pergi lebih dahulu, nak. Tapi percayalah, ada seorang perempuan yang tidak akan lepas mendoakanmu, ada seorang laki-laki yang mengingatmu disetiap sujud-sujud panjangnya. Kami merindukanmu, Nak.


24 November 2015

 

You Might Also Like

0 comments

I'm Proud Member Of