Cinta kepadamu, nak!

11.27.00

Tepat di tanggal ini, dua bulan yang lalu, saya dan suami menanti dengan harap-harap cemas kelahiran anak kami. Harapan yang sudah jauh melangit tak juga putus asa bahkan saat dokter mengatakan bahwa anak kami sudah tiada. Kami masih sama-sama berharap bahwa bayi mungil yang sudah berbulan kami nantikan itu akan membuka matanya atau menangis, menangislah nak sekuatmu!

Ruangan yang kami tempati tetiba disesaki duka, innalillahi wa inna ilaihi raji’un. Bulir-bulir air mata tertahan pada isak kami yang tak bersuara, seberapapun ingin kami agar bayi mungil itu tetap ada disisi kami, tetap saja tak bisa kami tahan. Qadarullah.


****** 

Kini telah berlalu dua bulan, jika ada yang saya sesali dari kehamilan sampai melahirkan  maka tidak menuliskannya ada dipoint paling pertama.

Kemarin saya membaca lagi tulisan-tulisan saya yang lalu mengenai fase-fase kehamilan yang saya jalani, ada perasaan senang, saya seperti di bawa pulang ke masa lalu. Saya sempat berandai-andai, aduh kenapa saya tidak menulis lebih banyak lagi tentang anak kami dengan segala apa yang saya rasakan selama hamil. 


Bisa dibilang, menulis menjadi obat untuk rindu yang bisa dibaca-baca saat waktu sudah jauh berlalu. Menulis adalah pengikat kenangan sebab kita tidak pernah tahu sejauh mana umur akan membawa kita. 

******
Setelah membuka catatan yang lalu, ingatan saya dibawa pada banyak kenangan selama hamil. Masih teringat jelas, pagi-pagi buta saya menampung urine untuk tes kehamilan. Tidak ingin berharap banyak takut ‘kecewa’ tapi saat harap itu tidak benar-benar meng-hiba, eh malah positif, beberapa pekan lalu saat beres-beres kamar, saya menemukan tespek yang dulu saya pakai, dulu saya sengaja menyimpannya untuk kenang-kenangan. Hehe. Allah itu penuh kejutan :)

Lalu masuk pada trimester pertama. Dilema LDRan sampailah di ubun-ubun. Hamil di rantau jauh dari suami galaunya jangan di tanya kaka. Untunglah ngidam yang saya alami tidak macam-macam. Anak yang baik, tidak menyusahkan ibunya yang galau. :)

Memasuki bulan ke empat, saya mendatangi dokter dengan rasa penasaran, laki-laki atau perempuan kah dia. Setelah mengetahui jenis kelaminnya, entah mengapa keinginan untuk merahasiakannya tidak ada sama sekali, bahkan setiap ada yang bertanya “laki-laki atau perempuan kah dia" maka saya akan menjawab dengan semangat berapi “insyaallah laki-laki, doakan ya jadi anak sholeh” :)

Nama. Cukup dua suku kata. Saya memilih nama shahabat Nabi, Ruwaifi. Nama sahabat ini kurang tenar, dan ini menjadi salah satu alasan saya memilihnya. Suami memilih ‘Tauhid’ untuk nama belakang anak kami. Jadilah Ruwaifi Tauhid, bersama nama ini kami menyematkan do’a semoga ia menjadi pejuang Tauhid.

Gerakan pertama, saya merasakan gerakan pertamanya saat sholat ashar dipekan ke 19. Entah karena terlampau senang atau apa, saya berulang kali memastikan apa itu benar dia atau jangan-jangan cacing lagi, hehe, setelah berlalu sekian waktu, saya benar-benar yakin  bahwa itu dia.

Memasuki bulan ke tujuh, saya mulai belanja online keperluan bayi. Bilna.com membuat saya ngiler. Hehe. Jadilah saya dibuat menunggu oleh kurir bilna. Setelah pesanan datang, saya akan bolak-balik melipatnya. Urusan dibulan ini yang paling emejing adalah pengurusan kartu keluarga yang hanya ada nama saya dan suami, setelah kartu keluarga jadi sengaja saya tidak menjilid kartu keluarga itu, sebab nanti juga akan diganti, nanti akan ada nama ruwaifi tauhid. Kami menunggumu, nak.

Lalu kemudian bentangan-bentangan waktu menunggunya itu telah terisi dengan banyak hal, mulai dari senyum yang lebar hingga tangis yang kadang tidak jelas sebabnya. Cinta kepadamu, nak,  sudah tumbuh subur jauh sebelum engkau menapak bumi. :)


******

“Kehamilan dan melahirkan itu mengandung banyak pelajaran Tauhid sebab di dalamnya banyak harap dan kekuatiran” ucap seorang teman menasehati.

Hari ini saya kembali membawa perasaan kehilangan dua bulan ini dalam perenungan yang panjang, semua hal yang terlewati dengan dengan segala rasanya, tidak lepas dari pengaturanNya. Manusia hanya bisa berencana saja. Bahwa perkara melepaskan apa yang diharapkan dengan sepenuh hati selalu mengajarkan tentang keikhlasan, tentang hal yang sering dilupakan bahwa semua milik Allah, semua milikNya, anak kami, jiwa kami adalah milikNya.

“Kepunyaan Allah lah apa yang di langit dan apa yang di bumi, dan hanya kepada Allah segala urusan dikembalikan” (QS.3:109)

30 November 2015

 

You Might Also Like

0 comments

I'm Proud Member Of