Buku-buku, ilmu dan kita

19.20.00

Bagian paling sensitif saat ikut kajian adalah pas bersinggungan dengan materi-materi yang mempertanyakan pengamalan ilmu yang sudah didapat. Bukan sekali dua kali saya mengalaminya, tapi berkali-kali, dan kesemuanya membuat saya GR habis-habisan. Sekali waktu ustadnya membahas perempuan dan hobi berceritanya, disitu padahal perempuan semua peserta kajiannya, tapi omongan ustadz jadi kayak senapan yang diarahkan ke saya, iya hanya ke saya.

Saat ustadz menyindir jilbab dan ingin gaya-gayaan, saya serasa disemprot. Saat ustadz membahas mereka yang beruntung karena keimanannya, saya hanya bisa memperbaiki posisi, orang beriman itu khusyu’ sholatnya, omongan dan perbuatannya jauh dari yang sia-sia. Bagian yang paling bikin hati saya gemetar adalah hadist yang bilang bahwa diakhirat nanti seseorang tidak akan kemana-mana sebelum ditanya untuk apa ia pake ilmunya.

Giliran ustad menceritakan semangat generasi terdahulu dalam berinfaq, saya mengingat lembaran patimura yang sering dipilih untuk masuk kotak infak. Saat ustadz menyebutkan kebiasaan orang sholeh diwaktu malam, saya diam membisu mengingat apa-apa yang saya lakukan diwaktu malam. Tiba di bagian jihad, hati saya mendadak sesak betapa untuk datang musywarah saja harus dihubungi berkali-kali padahal tempatnya juga adem, jaraknya juga tidak jauh-jauh amat, maka terkenanglah lagi perjuangan jihad Rasulullah dan para shahabat. T_T

Dikesempatan lain tema sabar yang menjadi topik utama, saya disitu bersimbah air mata mengingat diri yang tidak sabaran, terurai lah harap untuk belajar menjadi orang sabar tapi belum melewati parkiran masjid ilmu yang tadi sudah menuntut pengamalan, adalah saya disitu menggerutu dalam hati saat mendapati motor saya di apit kiri kanan depan belakang oleh motor lain, proses memindahkan motor itu satu-satu menggugurkan sudah tekad sabar yang baru saya pupuki.

Dan malam ini saya mendengar ceramah yang membahas hobi menumpuk-numpuk buku, buku yang segambreng di rak buku jadi berasa tersia-siakan setelah mendengar nasehat ustadz. Dulu, saya pernah melewati etape hidup dimana mengoleksi buku jadi kelihatan keren, saya tidak mau ketinggalan, ikutan juga dong. Maka mengoleksi buku adalah godaan hidup baru untukku kala itu. Saya rela berhemat-hemat untuk mengejar buku baru, niatnya jangan ditanya, kebanyakan hanya karena penasaran, alasan lainnya adalah teman saya sudah membacanya di awal. Padahal ada sebagian buku yang saya tak paham isinya, tapi karena kelihatan wow jadilah saya menentengnya. Memenuhi rak buku adalah obsesi saya, diam-diam saya mengagumi diri sendiri, bertambah senanglah saya saat ada yang kagum dengan koleksi buku yang saya miliki, kesannya kutu buku sekali padahal sebenarnya tidak, membaca pun kebanyakan tidak sampai tuntas.

Ustadz membahas mereka di zaman sekarang yang nafsunya langsung naik saja pas mendengar ada buku baru. Tidak ada masalah dengan mengoleksi buku asal dibarengi dengan semangat beramal, Jangan sampai semangat kita hanya ada pada tataran ingin mengoleksi dan menambah pengetahuan, sedang semangat untuk mengamalkan itu tidak mengikuti. Nah inilah masalah dari etape gelap hobi mengoleksi buku yang saya lalui, buku-buku menjadi pajangan.

Jadilah saya merenung, mungkin inilah sebab para shahabat terdahulu itu mempelajari al qur’an sepuluh ayat-sepuluh ayat, tidak melangkah maju jika belum benar-benar paham dan mengamalkan apa yang sudah dipelajari. Mungkin inilah sebab mengapa ibunda para ulama menaseti anak-anaknya untuk memeriksa akhlak selepas menuntut ilmu, adakah ilmu itu makin membuat dirinya lebih baik atau tidak? Mungkin inilah sebab guru tahsin saya menasehatkan agar tak perlu balapan mengkhatamkan al qur'an sebab Ilmu itu bukan pada bertambahnya hafalan, ilmu itu ada pada bertambahnya amal dan rasa takut kepada Allah.

****
Saya memandangi tumpukun buku yang ada di rak, di lembaran-lembaran buku itu entah berapa banyak hikmah yang terselip, perintah, dan juga larangan, idealnya semakin banyak buku yang dibaca, semakin banyak kajian yang diikuti maka semakin banyak juga yang diilmui.

Ilmu yang bermanfaat adalah yang berbuah amal. :)

26 November 2014

You Might Also Like

1 comments

  1. Alhamdulillah kalau kita masih merasa peka akan nasehat yang mungkin secara tidak langsung tertuju pada kita. Artinya iman itu masih ada.
    Tentang buku, sama ukh..terkadang memandang deretan buku yang tersusun rapi pada raknya, apakah semua sudah terbaca dan apakah telah menjadi sebuah manfaat untuk diri kita. Blognya saya follow

    BalasHapus

I'm Proud Member Of