Gajah dan Lalat, pada suatu ketika...

18.00.00

Sungguh saya sering terpukau pada kata-kata yang diputar-putar walaupun banyak yang tidak saya mengerti. Setidaknya saya paham rasa terpukau itu bukan hanya karena prestasi yang wow, sesuatu yang menjengkelkan pun bisa menghadirkan rasa terpukau. Ini boleh jadi menjadi salah satu sebab mencuatnya bakat berkomentar dalam diri saya. Belum lagi adanya naluri alami merasa senang dikomentari, maka jadilah bakat ini bersambut, bebas berkomentar, cuy.. hehe

Jumlah hal yang bisa dikomentari di negri kita sudah amat banyak. Tapi hal yang mendapat komentar positif, sungguh butuh didata, rasanya sedikit saja. Komentar bisa melayang bebas kemana saja, dari kasus kenegaraan hingga kasus 'kasih tak sampai' yang sedang naik daun. Presiden yang menjadi orang nomor satu negeri ini pun bisa dikomentari pedas stadium empat. Komentar yang yang bebas ini dibanyak sisi ada bagusnya juga, setidaknya mengurangi kadar sensitif, iya, orang sensitif alias pemarah bisa mati berdiri jika tak tahan dikomentari di zaman sekarang ini. Sisi tidak baiknya, karena banyak berkomentar akhirnya kita lupa diri, apa-apa dikomentari sedang diri sendiri dilupakan karena terlalu sibuk mengurusi kasus di luar diri sendiri.


Kesadaran ini untuk saya yang suka berkomentar sungguh tidak menentramkan. Semakin banyak berkomentar, semakin jelas aib sendiri terpampang, mulut belum kering berkomentar, tahu-tahu saat berkaca aib serupa ada di diri sendiri, namun tidak kunjung sadar juga. Maka akan sangat susah memahami lawan bicara yang terus saja berkomentar padahal sudah gilirannya untuk diam menyimak komentar pihak lain, sangat susah menerima orang yang pintar berkomentar tapi tidak rajin berkaca.

Ini baru sedikit kasus, kalau bergeser sedikit ke media sosial. Maka akan kita dapati komentar yang berwara-wiri bebas. Kolom komentarpun terbuka lebar, komentari aku maka senang hatiku, begitu kira-kira kalimat yang melambai saat kita-kita ini mengupdate status. Untuk yang kuper seperti saya ini bisa jadi komentarnya hanya pada kasus-kasus ringan saja semisal kasus obat pemutih wajah yang berhasil membuat wajah loreng-loreng. Lain cerita untuk mereka yang daya tangkap dan daya ucapnya canggih, maka jadilah media sosial tempat lempar-lemparan komentar, kasus-kasus yang ramai jangan harap bisa selamat dari komentar, dari lempar-lemparan komentar naik  kelas menjadi debat panjang bercampur lebar. Hujat menghujat merasa paling benar jarang bisa dielakan kalau sudah masuk ranah-ranah debat. Aib terbuka begitu saja. Janji Rasulullah untuk mereka yang sanggup meninggalkan debat walaupun berada dipihak yang benar sudah tidak mempan lagi.

Sungguh komentar-komentar di media sosial membuat saya terpukau. Saya terpukau saja pada kemampuan melihat, koq gajah dipelupuk tak terlihat ya padahal lalat yang nongkrong diseberang lautan bisa teramati jelas. Saya sering ngeri sendiri saat membayangkan buku catatan amalan itu, tak ada yang terluput barang setitik dari tiap tingkah, ucap dan laku kita, sayang takutnya keseringan hanya sebentar. Ketakutan ini walaupun belum istiqomah adalah obat paling manjur yang saya rasa sampai saat ini jika hendak berkomentar macam-macam.
 
Sumber gambar: gajah

7 Januari 2014




You Might Also Like

2 comments

  1. Kalau kata pak JOKOWI, tampilkanlah yang baibaik saja dan terus menerus maka yang akan muncul rasa optimisme bukan pesimisme. hehehe, salam kenal !!!

    BalasHapus
  2. Wara' tertinggi adalah meninggalkan yang halal karena takut tidak bermanfaat. Wara' terendah adalah meninggalkan perbuatan haram. Saya lupa namanya, seorang ulama pernah diminta berjalan sedikit oleh istrinya agar obatnya cepar bereaksi. Tapi sang ulama tetap tak beranjak. Ia khawatir jangan sampai jalan-jalannya itu tidak ada manfaatnya.

    BalasHapus

I'm Proud Member Of