Surat untuk Ramadhan

21.02.00

Saya tidak tahu alasan yang pasti kenapa harus menulis surat ini untukmu. Pertemuan kita belumlah berlalu terlalu jauh namun malam ini pikiranku terbawa padamu. Saya tidak ingin mengatakan ini rindu sebab mungkin engkau tak akan percaya lagi. Maaf jika selama saya sering mengacuhkanmu. Mengacuhkanmu adalah penyesalan.

Ada banyak hal dalam kehidupan ini yang saya tuliskan, tak terkecuali tentangmu. Maaf atas kedatangan suratku yang tiba-tiba ini tapi percaya saja bahwa surat ini saya tulis setelah berpikir lebih dalam tentangmu, berpikir tentang pertemuan kita berikutnya, masihkah ada? Surat ini juga untuk memastikan kalau sebenarnya saya masih terjaga, tidak sedang mengigau atau bermimpi.

Saya lupa siapa yang awal kali memperkenalkan dirimu, saya bahkan lupa kapan pertama kali menyadari kedatanganmu. Saya juga tak pernah memperhatikan bahwa engkau sering datang dipenghujung musim hujan. entah kapan, hingga kehadiranmu berpengaruh pada ritme jantungku, barangkali saat itulah rinduku mulai tertanam.

Ramadhan mungkin kau tak menyadari bahwa kehadiranmu membuat mesjid cemburu sekaligus bahagia. Bahagia karena tiba -tiba saja ia menjadi sesak di malam hari saat engkau datang. Cemburu sebab setelah kepergianmu masjidpun merana, hanya mereka yang setia yang masih bertahan.

Saya sering merasa heran kemanakah orang-orang yang menyesakan itu setelah kepergianmu? Apakah pesonamu tak dapat kau bagi ke bulan lain hingga sesak itu dapat saya rasakan sepanjang tahun, tanpa menunggu musim hujan usai atau kemarau kembali menghadang.


Ramadhan apakah kau tahu ada banyak hal yang mengingatkanku padamu, malam-malammu yang syahdu, siangmu yang melelehkan dosa, pintu-pintu syurga yang terbuka, Pahala yang berlipat. Saya berharap bahwa tahun ini kita akan bertemu lagi dan saya bisa menjadi perempuan yang lebih baik, seperti harapanmu, harapan Pengutus-Mu.

Sebenarnya saya ingin mengatakan bahwa saya sudah tidak sabar ingin bertemu denganmu, tapi kata-kata ini ku biarkan mengendap dalam hatiku yang kerdil. Saya akan menunggu kedatanganmu dengan sabar sembari mempersiapkan diri untuk menyambutmu. Persiapanku kali ini semoga baik sehingga engkau yakin bahwa saya memang merindukanmu.

Dari perindumu..

*Pict from  here

28 Februari 2013

You Might Also Like

4 comments

  1. nangis bacanyambak :"(
    inspiring banget. footnotenya saya suka, terima kasih mbak infonya :')

    BalasHapus
  2. dan para sahabat terdahulu cuma kenal 2 bulan ajah: bulan Ramadhan dan bulan selen ramadhan... #ikutan rindu, ahh...

    BalasHapus

I'm Proud Member Of