Hatinya Seluas Lapangan Bola

16.11.00

Kebaikan itu butuh kesepakatan atau bisa juga tidak. Butuh kesepakatan karena kita tidak hidup sendiri atau bisa juga tidak karena barangkali kondisi disekitar kita dihuni oleh orang-orang yang memiliki hoby di luar yang baik-baik. Pelakunya pun demikian, bisa disepakati bersama kalau si pelaku adalah orang baik atau bisa juga tidak jika orang disekitarnya tak sepakat dengan yang baik tadi. *Ngomong apa sih... :p

Tulisan kali ini tentang kesepakatan, Kesepakatan tentang seseorang yang hatinya seluas lapangan bola.
Saya Lupa kapan awal kali mengenalnya, tak menarik hingga tak meninggalkan kesan, begitu kira-kira. ia tak terkenal, ia juga tak masuk golongan orang-orang pintar. Dari sisi kecantikan, kami sebelas dua belas, sangat biasa. Dari sisi kekayaan, untuk bagian ini, saya tak mendapati darinya kecuali kesederhanaan yang nampak seperti naluri alami.
 
Kesadaran ini agak terlambat hingga saya mendapati bahwa tak sekalipun ia mengatakan tidak pada sesuatu yang diminta tolong-kan padanya. Saya juga mendapati bahwa tak sekalipun ia marah atau sekedar menunjukan gurat kesal. Tidak sekalipun dalam kurun lima tahun ini.

Ia tidak layaknya orang-orang pada umumnya yang suka mengungkapkan rasa tidak suka pada orang lain. Lebih lima tahun saya mengenalnya dan hanya sekali saja ia mengatakan kecewa atas perlakuan seseorang. Barangkali saja ada banyak kecewa, namun hatinya yang lapang mudah saja memafkan.

Mengenai Rezki. Untuk seumuran kami, tak saya temukan satupun hati seluas hatinya untuk perkara ini. Ia bekerja dengan penuh suka cita untuk bayaran yang barangkali untuk hati yang tak lapang tak akan mau menerimanya.  Dan lagi-lagi saya di buat takjub oleh rasa syukur yang terang-terangan darinya.

“Sungguh sangat beruntung seorang yang masuk Islam, kemudian mendapatkan rizki yang secukupnya dan Allah menganugrahkan kepadanya sifat qana’ah (merasa cukup dan puas) dengan rezki yang Allah berikan kepadanya” HR Muslim

*****
Kami melewatkan perkuliahan di Kampus yang sama dan jurusan yang sama.  Kuliah erat  kaitannya dengan Nilai. Dulu saya sempat dibuatnya heran karena ia begitu bersyukur saat mendapatkan Nilai C.

Dulu rasanya aneh, sekarang kagum. Saya kagum padanya karena ia begitu pintar bersyukur untuk hal-hal kecil sekalipun. MasyaAllah

*****
Tentang kesepakatan . Dua malam yang lalu saya bersama teman yang lain seperti melakukan siaran ulang, mengupas lebih tajam tentang sisi kebaikanya. Kesimpulan akhir, dia Memang sangat sabar dan baik. 

Kebaikan lainnya,  ia pintar memasak dan Rajin bersih-bersih..hehe

Malam itu, kami berdo’a semoga ia mendapatkan jodoh yang baik dan sholeh. Terlalu sayang andai ia dipersunting laki-laki tak baik..

Bekasi, 7 Agustus 2012
Teruntuk seorang teman yang sedang belajar menjadi pahlawan tanpa tanda jasa..

You Might Also Like

6 comments

  1. mudahmudahan bukan dia saja, tapi kamu juga.
    begitu riwayat mengatakan, jika kita mendoakan seseorang, maka malaikat akan berkata, "semoga engkau juga demikian." :D

    BalasHapus
  2. Subhanallah :) mari belajar dari dia. bahwa hidup adalah tentang bersyukur untk hal apapun ..

    BalasHapus
  3. Tersenyum dan bersyukurlah.. Dan hatimu akan menjadi sangat lapang.. :)
    Cobalah..

    BalasHapus

I'm Proud Member Of