Beberapa hal memang tidak harus sepaket :)

14.35.00

Kalau ditanya gimana rasanyaa harus LDM an, pasti jawabannya nggak jauh-jauh dari galau. hhaha. Iyaalah, situ nggak tahu ya gimana rasanya di lilit rindu? naah itu. Eh tapi belum selesai galau terparparkan pernyataan selanjutnyaa membuat hati berasa tersileti..."Rahma.. kamu kok masih betah kerjaa diluar rumah, bukannya perempuan harusnyaa banyakan di rumah, ngurus suami, ngurus anak, ngurus ini itu" 

Jlebbb.. karena kepikiran omongan rasa silet itu saya semalaman tidur bermandikan air mata.

Benar juga, saya dengan semangat empat lima pernah mengatakan hal serupa, nggak tanggung-tanggung berjudul-judul tulisaan berkenaan dengan perempuaan dan tugasnya sudah saya tulis, sudaah tak terhitung puja-puji keluar dari mulut saya untuk perempuaan yang rela menanggalkan kariernya setelah berumah tangga, sudaah tak terbilang jugaa ini mulut berkomentar 'miring' tentang merekaa yang masih ajaa mau rempongg bekerjaa di luar rumaah padahal kan setelah menikah udah ada yang nyariiin makan. Trus kenape lu masih kerjaa juga, rahma? udah lupaa sama omongan sendiri, haa?

Tidaklah..Sekarang saya malah jadi tahu bahwa untuk setiap keadaan kita butuh bersabar menyelami alasaanya :)

Oke kaka.. Mari kita lihat kasus perempuaan bekerjaa di luar rumah lebih dekat, bukannya mau mencari pembenaran, tapi kali ini saya ingin berbicara dari sudut sudah merasai, kemarin-kemarin mah bicaraa ini itu banyakan sotoy. hahaha.  Maka benarlah pengalaman adalah guru terbaik, belajar dari pengalaman agar takwa  tidak hanya terpendam di hati. :)

Lima tahun yang lalu, bertempat di kost-kostan yang ada di pinggiran UNHAS *UNHAS itu nama kampus yaah, bukan nama makanan.. :p* saya sama putri ngobrol sambil ngepoin muadzin di dekat kostan. :D Putri yang baru pulang kerja praktek dari semen tonasaa bercerita panjang kali lebar tentang pengalamannya selama disana, nggak tahu gimana ceritanyaa, tahu-tahu obrolan nyangkut ke mimpi-mimpi masaa depan, apa dan bagaimana setelah sarjanaa, setelah menikah? *udah mikir mau nikah ajaa, padahal galau skripsi aja belum kelaar* berkarir kah atau menjadi ibu rumah tangga kah? Nah si putri, yang masih panas-panas habis KP ada di kubu berkarir, sedangg ane ada ki kubu mendam di rumah aja setelah menikah.  Bukan tanpaa alasaan si putri demikiaan, alasannya karena ibu-ibu sukses yang ia jumpai di tempat KP nyaa, kereeen sekali kaka, kariernyaa okee, rumah tangga jugaa tetap terjagaa. Saya kala itu jugaa panaaas, panass ingin menjadi istri sholeha saja. :p

Setelah lima tahunn, putri melaju dengan karir dosennyaaa, sedang sayaaa di uji dengan omongan saya tempo hari.. manaa.. manaa. katanyaa ingin jadi IRT sejati, naah sekarangg lu masih asik asoy ajaa berangkat pagi-pagi, pulang soree-soreee *kena omongan sendiri deh* Sampai disini, saya ingin mengingatkan diri sayaa dan kamu yang membacaa tulisaan ini.. hati-hati kalau ngomonggg, apalagi ingin kelihatan baik atau semacammnyaaa, Allah itu nggak tidur, cepat atau lambat ia akan mengirimkan kertass ujiaan untuk menguji omonganmu* -_-'

Selama bertahun-tahun walaupun nggak terucap lantang namun seperti ada pemahaman hitaam dalam hati saya bahwa istri sholeha itu yang tinggal di rumah, yang masih kelayapaan di luar rumaah kesholehannya di pertanyaakan. Dan luar biasaa cara Allah ingin mengajarkan umatnya, saya sekarang ada disini, di posisi yang dahulu saya pertanyaakan "kesholehannyaa"

Sekali lagi bukan ingin mencari pembenaran walaupun terbacanya demikiaan.. hehe.. nggak kaka.. ini seriusss.. :) untuk sementaraa bacaa catatan ini sebagai pembelajaran agar tak serampangan menilai, sekali lagi takwa itu di hati, amal perbuatan adalah bukti nyata dari dari kesholehaan.

Lanjut  ya ceritanyaa..

Kegalauaan saya yang sudah sampai ubun-ubun karena berjauh-jauhan dengan suami diperparah dengan pemahaman yang nancep di hati selama bertahun-tahun ini. Ya Allah tuntunlah hamba-Mu yang galau ini. Dalam kegalauan yang nyataa, hape saya dikagetkaan oleh BBM dari seorang teman, dibuka dengan tanya-tanya kabar selanjutnya adalah sesi curhatt. Teman saya itu galau mengambil keputusan, setelah menikah apakah di rumah sajaa atau mengikuti jejak saya yang tetap bekerjaa. Dari lubuk hati yang paling dalam, diaa maunyaa jadi istri 'seutuhnya' tinggal di rumah melayani suami, di sisi yang lain dia ingin berpenghasilan jugaa untuk menyenangkan orang tuaa, agar nggak dianggap enak-enakaan menghabiskan uang suaami. 

Dilema saya menjawabnya, takut kemakan omongan sendiri lagi. tapi baiklah, setelah sesi curhat yang panjang, saya akhirnya galau juga *diaa nggak tahu ajaa gimana maunyaa saya nonkrong di rumah setiaap hari setelah menikah ini*
Batin saya bergejolak *baca galau* setelah bbm an dengan teman saya itu.. Saya ada dikondisi yang ia inginkan, sedang saya ingin beradaa ada di posisi yang di tempati. Kondisi inii... bukankah ini adalah kondisi yang sering kita alaami, selalu ingin beradaa di pijakan orang lain dengan asumsi bahwaa dari tempat orang lain berpijak ada pemandangan yang lebih indaah. Titik terang dari kegalauan saya sudah sedikit terlihat. 

Dan perasaan teman saya itu, saya seperti bisa merasakan rasa bersalahnya, dari jauh-jauh hari ibu dan kakak saya sudaah memberikan peringatan yang dibumbui dengan cerita-cerita prahara rumah tangga karena urusan finansial. Belum lagii orang tuaa jadi merasa sia-sia menguliahkan anak-anaknya jika harus berakhir jadi IRT. Belum lagi dilema ingin membahagiakan orang tuaa dengan penghasilan sendiri. Di bagiaan ini, saya mengambil pelajaran lagi bahwa tidak ada yang luput dari ujiaan, pijakan yang ada dalam bayangan saya bersama pemandangan indahnya seperti terkaburkan, karena bisaa jadi saat saya berada di posisi teman saya itu perasaan saya jadi tak puas lagi jadi IRT tulen, akhirannya saya galau memikirkan harus mendapat penghasilan dari mana.

Ehm.. begini tulisaan ini sungguh tidak ingin menawarkan pemahaman sesat.. hehe. saya hanyaa ingin mengajak diri saya dan kamu untuk melihat lagi, merenungi lagi, bahwa setiap pilihan ada alasan yang menyertainyaa, bahwa ibu-ibu yang keluar pagi-pagi dari rumahnya tidak serta merta karena matree dan takut menderitaa lantas meninggalkan keluarganyaa, jangan berpikir demikiaan karena pasti ada alasan besertanyaa, karena sungguh tidak mudah membelakangi fitrah kewanitaan, hanya saja ada alasannya. 

Bukan jugaa emansipasi. Pengalaman lagi-lagi mengajarkan bahwa keputusan perempuaan bekerjaa di luar rumah bukanlah hal melulu mudaah, seorang ibu yang setiap hari berlomba memompa asi di jam-jam kerjaa sungguh saya yakini bahwa keinginannya untuk beradaa di samping bayinyaa tak terduga kadarnyaa, hanya saja ada alasan lain, akhirnyaa ia meninggalkan bayinya dengan berat hati. atau sekumpulan ibu-ibu yang keluar rumah, menenteng berember-ember batu kemudiaan mencari bagian-bagiaan jalan berlubang setelah itu mereka menengadahkan tangan kepada setiap pengendara, ah itu pasti tidak mudah, bukan juga emansipasi yang hendak di tuntut tapi ada alasan besertanya. atau lagi seorang nenek tuaa yang keluar pagi-pagi butaa, keliling kota pula dengan gerobak sampahnyaa. Kenapa bukan suaminya? ternyataa suaminya lumpuh.
 
Maka memilih menjadi ibu rumahtanggakah atau akan berkarir, silahkan memilih? karena kesemuanya akan dipertanggungjawabkan. Atas semuaa pilihan ada saksi di setiap alasan yang kita ambil. Jujur dalam memilih, karena hanya diri sendiri dan Allah-lah yang paling tahu alasan-alasan dari setiap keputusan kita. 

Terakhir.. tulisaan ini bukan suatu pembenaran atas apa yang saya lakoni saat ini :) seorang wanitaa yah idealnyaa di rumah, jadi istri, jadi ibu yang baik untuk anak-anaknya. Hanya saja ada keadaan-keadaan yang menuntut ia untuk bekerja di luar rumah. Tulisan ini lebih ke pengingat untuk diri agar tak terlampau buru-buru menilaai, seorang istri, seorang ibu meninggalkan rumahnya, bisa jadi itulah salah satu bentuk ikhtiarnya. Selama masih di rel takwa, masih menjaga aturan-aturan Allah, maka tidak ada hak kita untuk mencela, bahkan sekalipun tak lagi ideal di mata kita, selalu beri diri celah untuk mencari alasan pemakluman, atau bersabar sebentar sebelum menilai akan lebih baik. Di atas setiap pilihan kita ada tanggung jawab yang kelak akan di tuntut.

Dan untuk setiap kondisi, syukurilah, keyakinan bahwa semua pasti berhikmah harus selalu dan selalu dipupuk. Apapun kondisi kita saat ini, bekerja kah, ber IRT kah, selama di lakoni dengan takwa, dengan sendirinya hati akan menemukan tempat terbaiknya alias nggak galau lagi.
 
Oke deh kaka.. dehhh.. panjangnnya ceritaku..:D
Salam..
28 Mei 2014









You Might Also Like

1 comments

  1. Udah baca khatam buku yang aku berikan, mbak? :)
    Siip.. semoga menjadi pelajaran bersama

    BalasHapus

I'm Proud Member Of